BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Berteman dengan Sinar Matahari (Bagian 1)

oleh : dr. Hendra Koncoro, SpPD dan Clarissa, S.Ked

Post on 03 September, 2018

SEIRING berkembangnya teknologi, manusia sangat terbantu dibandingkan dengan zaman dulu. Jika ingin berbelanja, kita bisa melakukannya di rumah, hanya dengan menggunakan jari. Berbeda dengan zaman dulu, kita akan keluar rumah, misalnya dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Sebenarnya hal ini baik untuk membantu kita lebih efisien. Namun, sisi negatifnya, kita jadi jarang keluar rumah. Ataupun, jika keluar rumah, kita menggunakan mobil sehingga kurang terpapar sinar matahari.

Jika berobat ke dokter, salah satu saran kesehatan yang paling sering diberikan adalah berjemur di bawah sinar matahari. Matahari memancarkan berbagai gelombang elektromagnetik, berupa gelombang radio, microwave, sinar infra merah, visible light, sinar ultraviolet (UV), sinar X, dan sinar gama. Banyak dari partikel-partikel tersebut diserap oleh atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi. Sinar yang paling merusak kulit adalah sinar UV.  Sinar UV mempunyai panjang gelombang lebih pendek dibandingkan visible light sehingga sinar UV tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Sinar UV terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan panjang gelombangnya, menjadi UVA (long-wavelength), UVB (medium-wavelength), dan UVC (short-wavelength). UVC merupakan tipe radiasi UV yang paling merusak, tetapi sudah difiltrasi sempurna di atmosfer bumi sehingga tidak mencapai permukaan bumi. UVB hanya dapat memenetrasi kulit lapisan epidermis, sebagian besar UVB difiltrasi di atmosfer bumi. UVA dapat memenetrasi kulit hingga lapisan dermis, 95 persen komponen UV terdiri atas UVA.

The National Institute for Health and Care Excellence (NICE) pada tahun 2016 merekomendasikan paparan terhadap sinar matahari pada pukul 10 pagi hingga pukul 3 sore. Periode tersebut merupakan waktu saat tingkat UV solar tertinggi dipancarkan oleh matahari.  Berjemur pada waktu tersebut sudah cukup untuk membentuk vitamin D dalam jumlah adekuat.  Pendapat sebelumnya bahwa berjemur di sinar matahari pagi cukup efektif kelihatannya tidak sepenuhnya tepat. Berjemur sebaiknya dilakukan di bawah sinar matahari langsung dengan membiarkan lengan dan kaki terpapar langsung dengan sinar matahari. Namun, paparan tersebut hanya boleh dilakukan dalam waktu singkat karena adanya risiko sunburn. Penggunaan pelembab sun screen juga perlu dihindari jika Anda sedang berjemur. Orang dengan kulit gelap membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berjemur. Waktu yang direkomendasikan bisa mencapai 30 menit. Di Eropa, waktu paling baik untuk berjemur adalah antara bulan Maret sampai dengan Oktober. Di negara khatulistiwa, matahari bersinar sepanjang tahun dengan tingkat UV yang lebih tinggi sehingga hanya perlu berjemur dalam waktu singkat. Pengecualian terdapat pada anak berusia di bawah 6 bulan untuk menghindari paparan langsung terhadap sinar matahari yang kuat antara pukul 11.00 hingga 15.00.

Sepanjang paparan terhadap sinar matahari, 7-dehydrocholesterol (7-DHC), prekursor vitamin D, di kulit mengabsorbsi sinar UVB dan mengalami konversi menjadi vitamin D3 (cholecalciferol). Vitamin D juga dapat diperoleh dari makanan dalam bentuk vitamin D2 (ergocalciferol), yang berasal dari radiasi ergosterol pada tanaman dan fungi.

Tulang yang rapuh, kurang kadar kalsium, dan berbagai masalah kulit serta rambut dapat disebabkan oleh defisiensi vitamin D. Ahli kulit mengatakan bahwa olahraga di bawah sinar matahari dapat menurunkan risiko osteoporosis. Beberapa masalah hormonal, misalnya siklus datang bulan yang tidak teratur, jerawat, maupun kerontokan rambut juga dapat disebabkan kekurangan paparan sinar matahari. Hal ini disebabkan defisiensi akut vitamin D. (bersambung)