BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Meluruskan Hoaks : Menyembuhkan Sumbatan Koroner Tanpa Pemasangan Ring dengan Alat Sedot Plak Koroner (Bagian 1)

oleh : dr. Rachmat Hamonangan, SpPD KKV

Post on 23 August, 2018

INDONESIA belakangan ini sering diserang hoaks, termasuk hoaks di bidang kesehatan. Beberapa tahun terakhir, hoaks tentang penyakit jantung koroner berseliweren di media sosial dan terus berulang sampai saat ini. Salah satu hoaks yang banyak dibahas adalah penyempitan pembuluh darah jantung dapat disembuhkan dengan menggunakan alat penghancur atau alat pengisap. Kalimat yang digunakan saat menyebar berita tentang itu adalah ada metode mengatasi pembuluh darah tersumbat pada jantung tanpa pemasangan ring, lemak yang menumpuk di dinding pembuluh darah jantung dihancurkan sehingga tidak perlu lagi pemasangan ring. Apakah sesederhana itu?

Otot jantung memerlukan suplai nutrisi dan oksigen seperti bagian tubuh lainnya. Nutrisi dan oksigen dibawa oleh darah lewat pembuluh darah. Pembuluh darah yang memberikan nutrisi dan oksigen ke otot jantung disebut sebagai pembuluh darah coroner.

Pembuluh darah berbentuk seperti pipa. Seiring berjalannya waktu, di dinding pipa atau dinding pembuluh darah dapat terbentuk plak yang prosesnya melibatkan banyak faktor termasuk kolesterol. Proses penimbunan plak ini sering disebut aterosklerosis. Timbunan plak ini berlangsung menahun, sebagian proses melibatkan kalsium sehingga plak yang terbentuk menjadi keras. Penimbunan plak di dinding pembuluh darah menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terganggunya aliran darah yang melewatinya. Bila otot jantung tidak mendapat cukup nutrisi dan oksigen, kita dapat merasakan sensasi nyeri atau tertekan di bawah tulang dada yang kadang dapat menjalar ke lengan, rahang, leher atau punggung. Beberapa kasus dapat disertai rasa sesak napas. Rasa sakit dada ini sering disebut sebagai angina.

Pada beberapa kasus proses ini terjadi dengan peradangan yang hebat mengakibatkan penipisan dinding yang melapisi plak. Bila kemudian dinding tersebut makin menipis dan akhirnya pecah, terjadilah proses peradangan akut disertai pembentukan bekuan darah yang cepat di tempat plak yang pecah itu. Bekuan darah itu semakin mengganggu aliran pembuluh darah yang sebelumnya sudah terganggu akibat pembentukan plak. Kejadian ini bergejala sebagai rasa nyeri dada yang semakin hebat, semakin sering, semakin lama. Bila berlangsung lebih dari 20 menit, kita dapat menyebutnya sebagai serangan jantung. Jadi serangan jantung itu pada dasarnya timbul akibat proses hebat yang mengikuti pecahnya timbunan plak di pembuluh darah jantung.

Serangan jantung dikonfirmasi oleh dokter melalui gejala nyeri dada yang khas ditambah pemeriksaan rekam jantung dan pemeriksaan darah yang mendukung adanya kerusakan atau kematian otot jantung. Serangan jantung yang paling berisiko tinggi adalah serangan jantung yang disebabkan pecahnya plak pembuluh koroner dan diikuti dengan terbentuknya bekuan darah yang mengakibatkan penyumbatan total aliran darah. Pada kondisi itu, diperlukan tindakan segera untuk mengembalikan aliran darah dengan obat penghancur bekuan darah (trombolitik) atau tindakan membuka aliran darah yang disebut intervensi pembuluh koroner perkutan (Percutaneous Coronary Intervention/PCI), yang dalam tindakan itu dapat menggunakan balon dan atau stent. Pada kasus serangan jantung yang hebat seperti diceritakan di atas, saat prosedur itu dilakukan tindakan penyedotan bekuan darah sebelum dilanjutkan tindakan balon atau pemasangan stent. (bersambung)

Dapatkan info kesehatan RS St. Carolus di Harian KOMPAS setiap hari Minggu