BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Bagaimana Membangun Relasi dan Berinteraksi dengan Penderita Gangguan Bipolar (Bagian 1)

Oleh: dr. Waskita Roan, SpKJ

Post on 12 May, 2020

MEMBANGUN relasi dan melakukan interaksi dengan penderita gangguan bipolar tidaklah mudah karena mereka mempunyai mood yang selalu berubahubah. Ketika berada pada fase depresi, penderita bipolar banyak tidur dan mengurung di kamar. Mengabaikan kegiatan sehari-hari, seperti pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sosial. Merasa sangat bersedih dan kehilangan harapan pada jangka waktu yang panjang, makan lebih sedikit, sulit berkonsentrasi, dan memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Sebaliknya, fase manik akan membuatnya tidak bisa tidur karena energi yang berlebih. Menjadi terlalu bahagia dan sangat semangat, sangat sensitif dan mudah tersinggung, bersikap gegabah dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko, berbicara dengan sangat cepat, dan lompat-lompat topik pembicaraan dari satu topik ke topik lainnya. Ada juga yang melihat hal-hal aneh dan mendengar suarasuara misterius. Selain itu, waham atau keyakinan yang salah yang tak dapat dikoreksi, misalnya waham kebesaran atau waham-waham lainnya.

Keluarga dan orang sekitarnya menjadi jenuh, muak, marah, dan benci, tetapi harus berusaha untuk memahami bahwa mereka memerlukan bantuan dan pertolongan. Tidaklah mudah berinteraksi dengan penderita gangguan bipolar.

Cara membantu penderita bipolar Keluarga adalah tempat yang baik bagi penderita gangguan bipolar untuk menjalani pemulihan (untuk yang masih terkendali). Bila diperlukan, ada pengasuh atau perawat yang dapat mengasuh dengan perasaan kasih sayang dan penuh dengan empati. Kalau kondisi memburuk, rumah sakit khusus jiwa adalah pilihan yang tepat.

Berikut ini, sejumlah hal yang dapat dilakukan.

1.  Tanyakan apa ada yang perlu dibantu. Bila penderita bipolar terlihat seperti ada yang mengintimidasi dan membuat mereka resah, tawarkan bantuan dan tenangkan bahwa semua itu palsu dan tidak ada, beri dukungan dan yakinkan kita akan membantunya.

2.  Dengarkan keluh kesahnya. Mendengarkan keluh kesahnya atau “curhat” yang sederhana dapat banyak membantu menenangkan pasien karena merasa ada yang mau membantu dan mendukungnya, Terkadang sulit untuk mendengarkan tanpa memberikan nasihat, tetapi ada kalanya mendengarkan lebih penting daripada memperbaiki masalah.

3.  Setiap saat bisa “curhat”. Mereka merasa tenang ketika tahu bahwa Anda ada untuk membantu mereka meskipun mereka sedang tidak ingin bicara.

4.  Ajak mereka melakukan aktivitas bersama di luar rumah. Terkadang orang dengan gangguan bipolar, khususnya dalam fase depresi, mengurung diri, ajak mereka menikmati dan melakukan bersama-sama, seperti makan di luar, menonton film bioskop, atau jalan-jalan santai. Terus ajak mereka untuk beraktivitas bersama meski mereka menolak. Berbagai alasan seperti cemas atau fobia sosial mungkin akan menghalangi mereka untuk mau ikut. Walaupun tidak mau ikut, mereka akan merasa diperhatikan karena telah diajak. Pahami mereka bila butuh jarak atau waktu sendiri. Kadang orang butuh waktu untuk sendiri. Ini bukan berarti mereka marah pada Anda. Janganlah dimasukkan ke hati situasi ini, hargai kebutuhan mereka untuk sendiri.

(bersambung)