BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Mencermati Penanganan Patah Tulang akibat Keropos

oleh : dr. J. B. Endrotomo Sumargono, SpOT dan dr. Maria Florencia Deslivia, PhD

Post on 23 August, 2018

KEJADIAN patah tulang seringkali diidentikkan dengan kecelakaan lalu lintas, terutama pada individu dewasa muda. Benturan sedemikian keras akibat melaju dengan kecepatan tinggi menyebabkan tulang berubah bentuk melebihi kemampuannya dan akhirnya patah. Namun, ada pula patah tulang yang terjadi akibat gaya perusak yang sangat minimal. Patah tulang ini, salah satunya, erat dikaitkan dengan kondisi tulang keropos atau osteoporosis.

Osteoporosis merupakan kelainan rangka tubuh yang dicirikan dengan terganggunya kekuatan tulang dan peningkatan risiko fraktur. Dokter dapat mendiagnosis kondisi ini dengan bantuan alat pengukur densitas tulang. Penurunan massa tulang lebih dari 2.5 SD adalah di bawah standar rerata massa tulang orang dewasa sehat.

Berdasarkan data, lebih dari 40 persen wanita dan 14 persen pria di atas usia 50 tahun akan mengalami patah tulang terkait keropos tulang. Secara global, sekitar 200 juta orang berisiko mengalami patah tulang osteoporosis setiap tahunnya. Jumlah ini akan kian bertambah dengan meningkatnya populasi lanjut usia.

Fraktur akibat osteoporosis tersering pada pria biasanya menyerang iga, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Sementara pada wanita, mencakup pergelangan tangan, tulang belakang, iga, lengan atas, dan panggul. Pada golongan usia lanjut, patah tulang pada panggul terutama menghadirkan dampak sosioekonomi yang cukup berarti.

Tak hanya itu, penyembuhan patah tulang pada tulang yang telah tergerogoti osteoporosis pun diketahui lebih buruk. Selain penyembuhan tulang menjadi lebih lama, tulang yang dihaslikan mengalami penurunan kekuatan. Salah satu akibat yang dapat terjadi adalah peningkatan angka

kegagalan penanaman implant ortopedik secara dramatis. Oleh karena itulah, stabilisasi fraktur osteoporotic dapat menjadi problematik.

Untuk meminimalisasi komplikasi yang dapat terjadi pada penanganan patah tulang yang sudah keropos, berbagai studi menyimpulkan bahwa hubungan antara tulang dan implant ortopedi dapat diperbaiki dengan cara menghindari tekanan berlebih pada tulang serta mendistribusikan beban yang diterima secara merata ke implant maupun tulang. Prinsip ini diterapkan misalnya dalam aplikasi artroplasti atau penggantian sendi. Artroplasti memang lebih umum dikenal sebagai sarana pengobatan bagi pasien dengan pengapuran sendi (osteoarthritis).  Bagaimanapun, modalitas ini pun sering kali menjadi andalan agar dapat menata laksana tulang rapuh yang patah akibat cedera minimal pada orang tua.

Semoga Anda sehat senantiasa.

Dapatkan info kesehatan RS St. Carolus di Harian KOMPAS setiap hari Minggu