BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Mengenal Cacar Monyet

oleh : dr. Robert Sinto, SpPD, K-PTI

Post on 03 September, 2018

Pada Mei 2019, Indonesia digemparkan pemberitaan dari Singapura yang melaporkan seorang warga negara Nigeria terdiagnosis infeksi cacar monyet (monkeypox) saat mengikuti lokakarya.

Infeksi cacar monyet merupakan jenis penyakit infeksi virus yang ditularkan dari hewan pengerat dan monyet. Infeksi ini pertama kali ditemukan pada 1958 dalam bentuk cacar pada kelompok kera penelitian. Kasus infeksi cacar monyet pertama  pada manusia dilaporkan di Republik Demokratik Kongo  pada 1970. Hingga  saat ini, wilayah terjangkit  infeksi ini adalah Afrika Tengah dan Barat, selain beberapa kasus yang pernah dilaporkan di benua Amerika dan Eropa.

Berbeda dengan cacar air (chicken pox) yang kerap dijumpai menjangkiti anak maupun dewasa dan ditularkan melalui kontak percikan udara (airborne) manusia ke manusia, cacar monyet terutama ditularkan melalui kontak kulit yang rusak, saluran pernapasan atau selaput lendir (mata, hidung, mulut) dengan darah, cairan tubuh, atau luka terbuka pada kulit dan selaput lendir hewan serta melalui memakan daging yang terinfeksi virus. Kasus penularan cacar monyet antarmanusia mungkin walaupun jarang terjadi.

Antara 5 hingga 21 hari pasca-infeksi, seorang yang terinfeksi akan menunjukkan gejala demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening pada area bawah rahang, leher, belakang telinga, ketiak atau lipat paha, baik sesisi maupun dua sisi, nyeri punggung, otot dan lemas. Gejala awal ini lebih berat dibandingkan gejala yang dialami seorang yang sakit cacar air. Selain itu, pembengkakan kelenjar getah bening bukan merupakan keluhan umum yang dialami seorang yang sakit cacar air.

Setelah 3 hari melewati fase awal tersebut, pada penderita akan mulai muncul ruam merah kulit yang dimulai dari wajah dan menyebar ke bagian tubuh secara bertahap. Ruam berbentuk bintik kemudian berubah menjadi lepuh berisi cairan bening, nanah, mengeras menjadi keropeng dan rontok. Kelainan kulit ini dapat pula dijumpai pada telapak tangan dan kaki. Untuk memastikan seseorang terinfeksi cacar monyet, dokter akan memeriksa materi genetik virus monkeypox di laboratorium rujukan dari bahan usapan cairan pada lepuh kulit atau keropeng. Proses kelainan kulit terjadi dalam waktu 3 minggu hingga pasien sembuh tanpa diperlukan obat antivirus spesifik. Pengobatan diberikan dengan tujuan meringankan keluhan yang muncul dan perlu dilakukan di ruang isolasi untuk mencegah penularan kontak dan tetesan (droplet). Walaupun sekilas serupa dengan cacar monyet, kelainan kulit pada cacar air jarang mengenai telapak tangan dan kaki, dengan waktu mulai muncul ruam pertama hingga keropeng rontok berkisar 6-14 hari. Tampilan cacar monyet sangat berbeda dengan tampilan cacar ular (infeksi herpes zoster), yang merupakan aktivasi kembali infeksi cacar air pada sebagian dari satu sisi tubuh seorang penderita dan terasa nyeri.

Penyakit cacar monyet tidak lebih berat dari penyakit cacar air. Kekerapan kejadian penyulit berupa infeksi paru (12 persen) dan infeksi otak (kurang dari 1 persen) setara pada kedua penyakit. Angka kematian akibat infeksi cacar monyet di Afrika dilaporkan berkisar 1-10 persen.

Hingga saat ini, selain tidak  ada obat khusus, juga tidak ada vaksin khusus cacar monyet. Namun demikian, beberapa langkah pencegahan dapat dianjurkan seperti perilaku hidup bersih dan sehat (cuci tangan dengan sabun atau pembersih tangan berbahan dasar alkohol), menghindari kontak langsung maupun makan daging mentah hewan yang terinfeksi, menghindari kontak fisik erat dengan pasien atau lingkungan pasien terinfeksi. Sebagai bentuk kewaspadaan dini, masyarakat yang baru pulang perjalanan dari daerah terjangkit perlu segera memeriksakan diri bila mengalami gejala seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya dan melaporkan riwayat perjalanan pada petugas kesehatan pemeriksa. Semoga Anda sehat senantiasa.