BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Mengenal Lebih Jauh Gangguan Bipolar (Bagian 1)

oleh : dr. Yenny Sinambela, SpKJ

Post on 03 September, 2018

BULAN Maret tepatnya setiap tanggal 30 diperingati sebagai Hari Bipolar Sedunia. Tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal lahirnya Vincent van Gogh, seorang seniman asal Belanda yang tersohor di dunia yang mengidap gangguan bipolar. Mengidap gangguan bipolar tidak membuatnya mundur untuk berkarya dalam dunia seni yang melambungkan namanya, malah sebaliknya, Van Gogh memberikan inspirasi kepada banyak orang bagaimana berjuang mengalahkan pergolakan alam perasaannya yang bisa bergulir ke atas dan ke bawah. 

Salah satu tujuan memperingati Hari Bipolar Sedunia adalah dijadikan momen penting memberikan edukasi dan pemahaman lebih jauh kepada masyarakat tentang gangguan bipolar dan diharapkan dapat mengenali gejala lebih awal, memberikan dukungan sehingga mampu mencapai pemulihannya, dan membawa harapan baru bagi orang dengan gangguan bipolar.

Pengertian gangguan bipolar

Setiap kita memiliki perasaan senang, gembira, sedih, murung dan terharu. Perasaan tersebut bagian dari umpan balik terhadap kejadian yang kita alami. Namun, perasaan-perasaan tersebut akan berlalu seiring dengan waktu dan berlalunya peristiwa yang membuat perasaan tersebut muncul.

Namun, perasaan-perasaan tersebut bagi orang dengan gangguan bipolar sangat berbeda sekali. Yaitu, perasaan gembira, senang, semangat, kreatif, dan energik bisa berubah ekstrem menjadi perasaan yang sedih, putus asa, dan tidak memiliki semangat hidup dalam waktu yang sangat singkat.

Perubahan-perubahan perasaan atau mood tersebut dialami oleh orang dengan gangguan bipolar ibarat orang yang hidup di dalam dua kutub perasaan dengan fase bergantian. Perasaan gembira yang berlebihan, sangat bahagia, terlalu energik melakukan pekerjaan, semangat yang menggebu-gebu, super kreatif  ini biasa disebut fase mania. Sementara itu, perasaan yang sangat sedih, tidak bergairah sama sekali, kehilangan minat, bahkan ada kecenderungan perasaan ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri ini biasa disebut fase depresi.

Salah satu yang menjadi ciri khas pada gangguan ini adalah adanya satu fase yang disebut fase normal yang terjadi di antara kedua fase mania dan depresi. Orang dengan gangguan bipolar ini bisa hidup normal dengan melakukan aktivitas sehari-harinya dengan wajar dan seperti tidak terjadi gangguan.

Sering sekali orang dengan gangguan bipolar ini mengalami disharmonisasi hubungan dengan orang-orang di sekitarnya; dengan pasangan, keluarga, lingkungan sosial dan komunitas, juga di tempat kerja dia menggantungkan hidup sehari-hari.

Prevalensi gangguan bipolar di Indonesia berdasarkan data tahun 2007 jumlahnya sangat bervariasi antara satu sampai dengan empat persen dari populasi. Pria dan wanita memiliki angka kejadian yang sama. Bipolar muncul pertama kali pada rentang usia antara 15 tahun sampai 24 tahun. Angka kambuhnya gangguan bipolar juga cukup tinggi, yaitu sepertiga pasien penderita gangguan bipolar ini berusaha untuk melakukan bunuh diri dan 10-15 persen berhasil bunuh diri. (bersambung)