BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Mengenal Lebih Jauh Gangguan Bipolar (Bagian 3)

oleh : dr. Yenny Sinambela, SpKJ

Post on 03 September, 2018

ADAPUN faktor-faktor penyebab terjadinya gangguan bipolar ini merupakan kombinasi antara faktor biologis, psikologis dan sosial yang sering juga disebut dengan istilah biopsikososial.

Pada aspek biologi,  misalnya, adanya gangguan neurotransmitter di otak, gangguan keseimbangan hormonal, dan bersifat genetis (mempunyai hubungan darah atau saudara yang juga penderita  gangguan bipolar atau gangguan jiwa lainnya). Dari aspek psikologis, misalnya, terjadi perubahan hidup yang besar yang dialami oleh pasien, seperti ditinggal mati orang yang dicintai, kerentanan psikologis menghadapi masalah hidup, lingkungan yang menekan (stressful), kejadian dalam hidup (live events), riwayat pelecehan, dan bentuk psikologis lainnya.

Gangguan bipolar bisa disertai beberapa kondisi tertentu, seperti gangguan kecemasan termasuk di dalamnya post traumatic stress Disorder (PTSD), fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh. Selain itu, gangguan bipolar bisa juga mempunyai gejala yang tumpang tindih (overlap) dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Oleh karena itu, gangguan bipolar sering sulit dibedakan dari GPPH. Bahkan, kadang seseorang didiagnosis dengan dua penyakit sekaligus.

Banyak penderita gangguan bipolar juga mengalami adiksi napza. Selain itu, berkaitan dengan pola hidup, pola makan, dan pola tidurnya yang tidak teratur, penderita gangguan bipolar bisa saja mengalami sakit fisik lainnya, seperti diabetes, gangguan fungsi jantung, dan obesitas.

Penatalaksanaan gangguan bipolar

Penanganan gangguan bipolar dilakukan secara komprehensif. Meliputi terapi psikofarmakologi, psikoedukasi, psikoterapi, dan rehabilitasi.

Penatalaksanaan terhadap orang dengan gangguan bipolar memerlukan perawatan jangka panjang. Meski memerlukan perawatan jangka panjang, penderita gangguan bipolar dapat pulih. Untuk mencapai pemulihan, dibutuhkan kerja sama pasien serta dukungan dari lingkungan keluarga dan tenaga medis. Pasien pun tidak boleh menganggap dirinya sudah sembuh dan lantas tidak kembali berobat. Pemulihan gangguan bipolar bergantung pada kapan gejala timbul (onset). Onset yang muncul pada usia muda biasanya ditandai gejala energik berlebihan yang disebut mania. Bila gejala ini diketahui lebih cepat dan diobati, kualitas hidup saat usia tua serta muda bisa lebih baik. Jika kondisi mania, sebaiknya disarankan untuk dirawat inap.

Onset yang timbul pada usia tua relatif lebih sulit diketahui, dengan gejala awal depresi dan mudah terganggu. Pengobatan pada lansia juga lebih berhati- hati karena harus mempertimbangkan kemungkinan timbul penyakit lain. Hal ini dikarenakan sudah menurunnya fungsi beberapa organ sehingga lansia berisiko menderita penyakit lain, seperti gagal ginjal atau tremor. Pasien bipolar lansia juga diwajibkan kontrol teratur untuk memeriksa kemajuan pengobatan dan mencegah timbulnya penyakit lain.

Selain terapi yang bersifat psikofarmakologi, diberikan juga psikoterapi untuk mengajak orang dengan gangguan bipolar untuk mengeluarkan apa yang dirasakan dan menuntun agar ia memahami  penyakitnya. Teknik pengobatan yang lain berupa psikoedukasi, ini diberikan pada keluarga dan caregiver, yang menyediakan sistem dukungan bagi penderita. Keluarga dan caregiver diharapkan dapat terus memacu semangat penderita untuk pulih. Mereka juga harus mengingatkan pasien untuk selalu minum obat dan kontrol, untuk menjaga kualitas hidupnya. Dengan kepatuhan kontrol dan minum obat, diharapkan bisa menurunkan frekuensi kekambuhan dan ketidakstabilan mood penderita. Selanjutnya pengobatan akan mengurangi  gejala lain yang tersisa, termasuk keinginan bunuh diri. Dengan dukungan sosial yang cukup, kondisi mental dan mood penderita bisa terjaga dan kembali  beraktivitas.

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa.