BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Menjaga Kesehatan Remaja

oleh : dr. Fransiska Handy, SpA

Post on 23 August, 2018

REMAJA bukan anak dan belum dewasa, ia memiliki ciri khas dan kebutuhan yang unik. Remaja menurut WHO adalah individu berusia 10-19 tahun. Sebuah masa yang identik dengan aneka perubahan baik secara fisik, psikis, maupun sosial.

Masa remaja adalah masa lepas landas yang sangat besar perannya dalam menentukan kualitas masa dewasa  dan kualitas generasi yang kelak dilahirkannya. Masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sehat secara fisik, tidak heran populasi remaja adalah populasi yang paling sedikit  datang ke fasilitas kesehatan. Padahal, remaja adalah paling "rawan" secara psikologis dan sosial yang dapat memberi dampak pada kesehatan fisiknya. Sebaliknya, di masa remaja juga terjadi banyak perubahan fisik berupa pubertas dan proses masturbasi otak yang unik yang berdampak  pada aspek psikologis dan sosial. Besarnya pengaruh  lingkungan pada remaja mulai dan orangtua, keluarga, sekolah, dan teman sebaya juga berperan dalam kesehatan remaja secara keseluruhan.

Apa saja yang perlu kita perhatikan dalam memastikan  kesehatan remaja?

Pertama, pola makan yang sehat. Tidak sarapan, jajanan tidak sehat, konsumsi junk food, makanan dan minuman kemasan (yang pada umumnya tinggi gula dan garam), serta jarang mengonsumsi buah dan sayur adalah pola makan yang kerap dijumpai pada masa remaja. Pola makan ini besar kemungkinan terbawa hingga dewasa dan akhirnya dituai sebagai penyakit stroke, kencing manis, dan kanker yang merupakan  penyebab kematian utama masyarakat Indonesia. Menerapkan pola makan sehat bagi remaja sangat menantang karena ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan adanya pengaruh teman sebaya yang besar.

Kedua, pemantauan  pertumbuhan.  Bukan balita saja yang perlu ditimbang dan diukur tinggi badannya. Remaja juga perlu, meski tak perlu sebulan sekali seperti masa balita. Jika tidak ada permasalahan, setidaknya 6 bulan sekali remaja perlu ditimbang dan diukur tinggi badannya. Pemantauan ini akan membantu kita mendeteksi dini kondisi gizi  kurang, gizi lebih dan obesitas serta perawakan pendek yang mungkin menjadi bagian dari permasalahan kesehatan lainnya.

Ketiga, pubertas sehat. Pubertas secara rerata pada anak perempuan dimulai dengan pertumbuhan payudara pada usia 8-13 tahun dan pada anak laki-laki dimulai dengan pembesaran  testis (buah zakar) pada usia  9-14 tahun. Haid pertama pada anak perempuan terjadi kurang  lebih 3 tahun setelah payudara mulai tumbuh atau umumnya sebelum usia 16 tahun. Pada 1-2 tahun pertama menstruasi polanya sangat mungkin masih belum teratur. Tinggi badan remaja perempuan akan cepat bertambah di awal masa pubertas, sementara remaja laki-laki akan banyak bertambah tinggi badan di akhir masa pubertas.

Keempat, imunisasi. Sama halnya dengan pemantauan pertumbuhan, imunisasi juga sangat diperlukan bagi remaja. Penyakit infeksi lebih mudah terjadi di masa remaja daripada masa sebelumnya. Imunisasi yang dianjurkan Ikatan Dokter Anak Indonesia bagi remaja antara lain DT, MMR, typhoid, dan HPV (Human Papiloma Virus, virus penyebab kanker leher rahim).

Kelima, aktivitas positif dan sehat. Memiliki aktivitas positif bagi remaja sangat penting untuk maturasi perkembangan otak remaja, menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mental, serta menghindarinya dari perilaku negatif.

Keenam, keselamatan dan keamanan di rumah, di sekolah/tempat kerja/tempat kursus serta dalam perjalanan adalah aspek kesehatan remaja yang sangat penting. Kekerasan dalam rumah tangga, bullying di sekolah, serta ketidakpatuhan pada peraturan lalu lintas adalah beberapa penyebab masalah keselamatan dan keamanan remaja.

Ketujuh, penggunaan gadget dan internet sehat. Kehidupan  zaman now tidak lepas dari gadget dan internet. WHO pada tahun 2017 yang lalu telah mencanangkan adiksi game sebagai salah satu permasalahan kesehatan yang penting.  Penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari penting bagi proses pembelajaran dan pengembangan ilmu, namun agar tetap terjaga baik, aturan perlu diadakan dan disepakati baik di rumah maupun di sekolah.

Kedelapan, relasi yang sehat di rumah dan sekolah. Peralihan dari masa anak ke dewasa disertai peralihan psikologis dan peran sosial remaja sehingga peran keluarga dan peran sekolah pun perlu ikut berubah. Perselisihan banyak terjadi karena maslng-masing pihak belum memahami apa saja yang terjadi dalam masa peralihan dan bagaimana menyikapinya.

Menyambut hari Sumpah Pemuda, mari klta pastikan remaja-pemuda Indonesia sehat senantiasa.

Dapatkan info kesehatan RS St. Carolus di Harian KOMPAS setiap hari Minggu