BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Menangani Kanker Tiroid secara Komprehensif

Oleh: dr. Laurentius Aswin Pramono, SpPD

Post on 08 February, 2022

KANKER tiroid merupakan keganasan yang berasal dari sel-sel kelenjar tiroid atau gondok. Biasanya pasien datang dengan benjolan di leher bagian depan (lokasi kelenjar tiroid). Diagnosis kanker tiroid dapat dilakukan dengan menggunakan ultrasonografi (USG) yang dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi jarum halus. Bila hasil USG dan didukung dengan hasil biopsi benjolan tiroid mengarah pada kanker tiroid, tindakan selanjutnya adalah pembedahan.

Ada beberapa jenis kanker tiroid. Jenis terbanyak (sekitar 85 persen) adalah kanker tiroid papiler, disusul oleh kanker tiroid folikuler (sekitar 10 persen), dan sisanya adalah kanker tiroid anaplastik, meduler, dan limfoma tiroid. Kanker tiroid papiler dan folikuler secara umum memiliki sifat dan angka kesembuhan yang baik, sementara kanker tiroid meduler dan anaplastik lebih sulit untuk ditangani dan biasanya rnemiliki sifat ganas dan angka kematian yang jauh lebih tinggi.

Operasi pengangkatan tiroid dapat dilakukan secara keseluruhan (tiroidektomi total) maupun sebagian (lobektomi). Pemilihan prosedur tergantung dari besar dan jenis kankernya. Semakin besar dan agresif jenis kankernya maka semakin banyak jaringan tiroid yang harus diangkat.

Setelah operasi pengangkatan total, pasien akan dinilai risiko kankernya tersisa atau tumbuh kembali. Di sini, pasien akan dianjurkan berobat ke dokter spesialis kedokteran nuklir untuk menjalankan prosedur whole body scan (WBS). Bila terdapat sisa, maka langkah selanjutnya adalah radioablasi (pemberian cairan/kapsul radioaktif dengan dosis tertentu) dengan tujuan membersihkan sisa jaringan tiroid pada pasien. Pemantauan pasca-radioablasi adalah WBS setiap 6-12 bulan sampai semua jaringan tiroid benar-benar bersih.

Pemantauan laboratorium yang juga penting adalah tiroglobulin. Pemeriksaan tiroglobulin sebaiknya dikerjakan saat pasien akan menjalani WBS. Bila tiroglobulin masih tinggi, dapat dipikirkan adanya jaringan tiroid yang masih tersisa pada pasien, baik pasca-operasi maupun pasca-radioablasi. Perlu diketahui bahwa operasi tiroidektomi total maupun radioablasi tidak selalu akan membersihkan semua jaringan tiroid pasien dan karena itulah kita membutuhkan evaluasi WBS dan tiroglobulin secara berkala (setiap 6-12 bulan). Pemeriksaan akan semakin jarang bila pasien berespons komplet dengan operasi dan radioablasi (tidak terdeteksi sisa kanker atau jaringan tiroid lagi).

Selain operasi dan radioablasi, pasien kanker tiroid juga akan mendapatkan terapi levotiroksin (tablet hormon tiroid) untuk menggantikan produksi hormon tiroid dan menekan tumor agar tidak balik kembali. Pemberian levotiroksin akan dilakukan seumur hidup dengan pemantauan kadar TSH. Melalui penanganan yang lengkap dan terpadu, seorang pasien kanker tiroid bisa menikmati angka harapan hidup yang sangat panjang. Tidak salah jika seorang ahli pernah mengatakan bahwa kanker tiroid merupakan salah satu kanker dengan harapan kesembuhan terbaik di antara semua kanker lain. Semoga kita sehat senantiasa.