BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Mengenali Cedera Otot Rotator Cuff pada Bahu

oleh dr. Erica Kholinne, SpOT(K), PhD & dr. Maria Anastasia

Post on 15 July, 2021

Rotator cuff tendon adalah sekelompok tendon pada bahu yang menghubungkan tulang lengan atas (humerus), tulang belikat (scapula) dan tulang selangka (clavicula). Rotator cuff terbentuk dari empat otot, yaitu supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan subscapularis (Gambar 1) yang memiliki fungsi utama untuk menstabilkan dan menunjang pergerakan sendi bahu (mengangkat tangan ke atas, memutar bahu ke arah dalam dan luar). Tendon supraspinatus merupakan tendon yang paling sering mengalami cedera diantara semua tendon.

Cedera pada rotator cuff tendon dapat bersifat akut (timbulnya mendadak) dan degeneratif. Cedera akut timbulnya mendadak, misalnya terjadi apabila seseorang jatuh dengan posisi tangan terentang atau saat memegang sesuatu yang terlalu berat di posisi yang kurang tepat. Cedera akut ini dapat muncul bersamaan dengan cedera pada bagian lain, seperti patah tulang selangka atau dislokasi sendi bahu. Sementara itu, cedera degeneratif timbulnya perlahan, disebabkan karena beberapa faktor yaitu faktor usia, gerakan repetitif pada sendi bahu (gerakan seperti mendayung atau kebiasaan membawa beban berat), berkaitan dengan pengapuran pada sendi bahu ditandai dengan munculnya bone spur (tulang baru berbentuk taji) sehingga menyebabkan penekanan pada tendon rotator cuff saat mengangkat tangan ke atas.

Pasien akan merasakan nyeri bahu terus menerus saat beristirahat (terutama saat malam hari), dan memberat saat mengangkat bahu. Nyeri biasanya dirasakan pada sekitar otot deltoid sampai ke lengan atas. Pasien juga dapat merasakan kelemahan juga pada otot bahu atau lengan atas tidak kuat untuk mengangkat barang. Gejala harus dibedakan dengan saraf kejepit pada leher (cervical radiculopathy) yang terdapat keluhan baal dan kesemutan pada lengan.

Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menunjang keberhasilan penanganan cedera rotator cuff tendon. Dokter akan menanyakan terkait keluhan yang dirasakan, dan melakukan pemeriksaan fisik spesifik dengan menggerakan sendi bahu. Setelah itu, untuk mengonfirmasi diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya, biasanya akan dilakukan pemeriksaan pencitraan (imaging test) seperti x-ray, ultrasound (USG), atau magnetic resonance imaging (MRI) dengan kontras. MRI adalah baku emas (gold standard) untuk mengetahui beratnya cedera rotator cuff tendon yang berhubungan erat dengan jenis penanganan selanjutnya.

Penanganan nonbedah (konservatif) masih dapat dikerjakan untuk cedera yang sifatnya ringan misalnya partial tear (robekan otot sebagian) atau small-sized tear (robekan otot ukuran kecil). Penanganan konservatif mulai dari mengistirahatkan sendi bahu (biasanya akan dipasangkan arm sling untuk menyangga lengan), menghindari gerakan yang memicu nyeri pada bahu, fisioterapi, obat-obatan anti inflamasi, dan injeksi sendi bahu. Penanganan operatif (pembedahan) biasanya dikerjakan pada pasien yang tidak memiliki kemajuan dengan penanganan konservatif dan pada pasien yang memiliki cedera tendon yang berat (medium to large-sized tear/ robekan otot ukuran sedang sampai besar).

Kami harap Anda sehat senantiasa.